Read Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi) by Wiji Thukul Free Online


Ebook Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi) by Wiji Thukul read! Book Title: Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
Date of issue: 2004
ISBN: No data
ISBN 13: No data
The author of the book: Wiji Thukul
Language: English
Format files: PDF
The size of the: 972 KB
Edition: Indonesiatera

Read full description of the books Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi):

bila disuruh memilih; perempuan telanjang dan buku ini. niscaya aku pilih buku ini. tapi tetap perempuan telanjang jadi pilihan nomor dua. tabik.

semalam saya menerima sms dari kawan saya. kira-kira isinya begini: gieb, ingat sophia latjuba? kalau ingat masa-masa itu aku jadi tertawa sendiri. juga kalau dengerin reza dan syaharani harus sembunyi-sembunyi. gara-garanya sederhana: biar cap marxisnya tidak hilang.

demikianlah. saya dan beberapa kawan, pada tahun 90-an harus sembunyi-sembunyi demi menyantap peradaban. makan secuil burger pun harus sembunyi. nonton di bioskop pun harus rela 'dandan' agar tidak dikenali orang. hahaha.

buku ini, bagi saya dan beberapa kawan tadi, ibarat kitab suci. sebuah petunjuk untuk membawa hidup kami lebih baik. bukan secara materi, tentu saja. tetapi secara manusia. makanya, buku ini masih saya simpan rapat-rapat di lemari. dan saya buka dan kembali baca ketika romantisme masa lalu itu menghantui saya kembali.

sms teman saya tadi malam membawa romantisme masa lalu itu kembali datang. entah sebagai apa. kesederhanaan puisi wiji thukul, menurut saya, menohok betul kemanusiaan saya. apa sebenarnya yang tersisa dari sebuah puisi? selain ketidaksengajaan pikir yang membawa kita larut di dalam untaian kata-kata.

bahkan, ketika itu, kami memaknai wanita -yang dicitrakan dengan sosok sophia latjuba- sebagai 'musuh' yang melenakan. hingga harus sembunyi untuk menikmatinya. takut ketahuan dengan kawan yang lain. tapi anehnya, selalu saja ada momen ketika kami harus tertawa getir karena kami tak 'tangguh' seperti yang kami citrakan. ceritanya begini:

sebut saja kawan saya bernama bangkong. demikian saya memanggilnya. jago ngomong soal marxis, dkk. suatu hari, saya memergoki dia lagi ikut antri nonton film titanic. wajah bangkong langsung memerah. tak karuan dia coba menyembunyikan wajahnya di sela rambutnya yang gondrong itu. saya semakin bergairah untuk menggoda dia. "katanya marxis, kok nonton titanic. mending bawa pacar. lha ini sendirian," ejek saya.

saya bisa memergoki bangkong karena waktu itu saya juga ikut antri. bwohahaha. cuma beda jalur antri.


Read Ebooks by Wiji Thukul



Read information about the author

Ebook Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi) read Online! Wiji Thukul Wijaya lahir di Sala 24 Agustus 1963 sebagai anak tukang becak dari keluarga Katolik. Selepas SMP, selama kurang dari dua tahun dia belajar di sekolah Menengah Karawitan Indonesia, sampai putus sekolah pada 1980.

Di Solo, Thukul dibesarkan di kampung miskin yang sebagian besar penghuninya hidup dari menarik becak. Ketika itu bis kota mulai menguasai jalanan, mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan bagi para tukang becak yang penghasilannya semakin merosot. Rentenirpun telah menjadi pengunjung tetap yang kedatanganya selalu menggelisahkan para penghuni kampung.

Semenjak putus sekolah, Thukul mencari nafkah sendiri melalui berbagai pekerjaan tidak tetap. Dia pernah menjadi tukang koran, tukang semir mebel, maupun buruh harian. Selain itu dia pun membaca puisi secara ngamen keluar masuk kampung, kadang-kadang diiringi musik gamelan.

Keterlibatan Thukul dalam teater dan kesenian di Sala dan Jawa Tengah sangatlah luas. Dia pernah mengambil bagian dalam pembacaan puisi di Monumen Pers Surakarta, Pusat Kesenian Jawa Tengah, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayasan Hatta di Yogyakarta serta radio PTPN. Sajak-sajaknya secara teratur muncul diberbagai majalah dan surat kabar, dan pada tahun 1984 kumpulan sajaknya berjudul Puisi Pelo diterbitkan dalam bentuk stensilan oleh Taman Budaya Surakarta. Stensilan berikutnya Darman dan lain-lain telah pula diterbitkan, selain sajak-sajaknya pun muncul dalam Antologi 4 Penyair Solo. Kumpulan puisi Suara diproduksinya sendiri bulan Juli 1987 dalam bentuk fotokopi yang dikomentarinya: ”Aku sedang belajar untuk tidak tergantung pada lembaga-lembaga kesenian resmi.”

Awal 1990-an terlibat dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER) yang menjadi anak organisasi Partai Rakyat Demokratik (PRD), partai independen yang didirikan oleh kaum muda dan mahasiswa sebagai partai oposisi rezim Orde Baru.

Tahun 1995 Thukul nyaris kehilangan penglihatannya akibat kebrutalan polisi saat ia memimpin pemogokan buruh-buruh tekstil Sritex. Pasca kerusuhan 27 Juli 1996, di mana PRD dikambinghitamkan sebagai biang kerusuhan oleh pemerintahan Orde Baru, Thukul bersama anggota-anggota sentral PRD harus bersembunyi. Kontak terakhir dengan rekan-rekannya masih terjalin pada 1998. Sejak itu keberadannya tidak diketahui, dan Thukul dikatgeorikan sebagai "orang hilang", korban-korban penculikan pemerintahan militer Orde Baru.

Tahun 2002 Thukul secara in absentia menerima Yap Tiam Hien Award atas perjuangannya di bidang penegakan HAM.


Ebooks PDF Epub



Add a comment to Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)




Read EBOOK Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi) by Wiji Thukul Online free

Download PDF: aku-ingin-jadi-peluru-kumpulan-puisi.pdf Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi) PDF